Analisis Rantai Pasok, Nilai Tambah Dan Strategi Pengembangan Usaha Mikro Kripik Ubi Di Kota Dumai

  • Rudi Faisal Jurusan Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Dumai
Keywords: Rantai Pasok, Nilai Tambah, SWOT, QSPM

Abstract

Rantai pasok keripik ubi kayu di kota Dumai terdiri dari petani, produsen keripik ubi, penjual oleh-oleh dan konsumen akhir. Selain memenuhi permintaan dan kepuasan konsumen, rantai pasok juga bertujuan untuk memaksimalkan nilai tambah perolehan dalam rantai pasok melalui pengukuran dan analisis nilai tambah secara keseluruhan.

Menentukan strategi pengembangan usaha keripik ubi di kota Dumai yang tepat dimulai dengan menganalisa sumberdaya yang dimiliki untuk mengidentifikasi kelemahan, kekuatan, peluang dan ancaman. Analisis dititik beratkan  pada unit dasar dari sumberdaya individu usaha mikro yang terdiri dari modal, peralatan, serta bagaimana usaha mikro menciptakan keunggulan bersaing dengan melihat bagaimana sumber-sumber tersebut bekerja bersama-sama untuk menciptakan suatu kemampuan. Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis kondisi dan kinerja rantai pasok usaha mikro keripik ubi di kota Dumai, menganalisis nilai tambah usaha mikro pengolahan keripik ubi kota Dumai serta menyusun strategi pengembangan usaha mikro keripik ubi kota Dumai.

Penelitian ini dilakukan melalui studi pendahuluan, pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data. Studi pendahuluan dilakukan dengan penelaahan langsung ke lokasi penelitian dan mempelajari hal-hal penting dalam usaha dan proses produksi. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh data primer yang meliputi data karakteristik responden, kondisi rantai pasok, harga di setiap anggota rantai pasok usaha pengolahan kripik ubi, biaya produksi, nilai output dan input pada setiap anggota rantai pasok serta jumlah permintaan yang dihadapi. Pengamatan langsung dilakukan untuk menganalisis kondisi rantai pasok secara deskriptif. Kuisioner yang digunakan berisikan pertanyaan-pertanyaan relevan dengan tujuan penelitian. Untuk mengetahui penilaian responden terhadap faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi usaha pengolahan keripik ubi maka kuesioner disusun melalui focus discussion group yang terdiri dari 10 orang dengan jumlah keseluruhan 20 orang. Masing-masing peserta diskusi mengajukan lima pertanyaan untuk mengidentifikasi faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Hasil identifikasi diambil sepuluh pertanyaan yang disesuaikan dengan kondisi usaha yang diteliti untuk masing-masing faktor internal dan eksternal untuk dijadikan pertanyaan kuesioner. Kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup dan masing-masing pertanyaan diberi nilai rating. Data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen, catatan-catatan dan laporan-laporan dari dinas UMKM. Pengolahan data dilakukan melalui data internal dan eksternal yang telah didapat, ditetapkan dan teridentifikasi serta dirangkum dalam suatu matriks external factor evaluation (EFE) dan internal factor evaluation (IFE). Analisis data dilakukan melalui analisis deskriptif rantai pasok, analisis kinerja rantai pasok, analisis nilai tambah (lebih), analisis SWOT serta analisis Quantitative Strategic Panning Matrix (QSPM).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi rantai pasok usaha pengolahan keripik ubi kota Dumai memiliki segmentasi pasar kalangan menengah ke bawah, dipasarkan secara lokal, harga relatif tinggi, optimalisasi rantai pasok berdasarkan kepercayaan antar anggota, kesepakatan kerjasama dilakukan secara informal dan hubungan antar anggota dalam rantai pasok berlangsung secara cycle view, usaha pengolahan keripik ubi berfungsi sebagai manufacturer sehingga menjadi pelaku utama dalam rantai pasok; kemitraan petani dan usaha pengolahan keripik ubi secara curah dalam rantai pasok memiliki tingkat efisiensi tertinggi dengan margin pemasaran terendah sebesar Rp.15.304,35 jumlah fungsi terendah dengan 13 fungsi dan nilai farmer’s share tertinggi dengan tingkat persentase 30,86%; usaha pengolahan keripik ubi dapat menahan persediaan selama satu bulan dalam setahun (inventory turnover), mampu memenuhi kebutuhan permintaan selama 31 hari jika tidak ada pasokan lebih lanjut dari petani mitra (inventory days of supply) dengan perputaran keuangan usaha selama 34 hari; tingkat persentase keuntungan, nilai tambah brutto, nilai tambah netto dan nilai tambah per tenaga kerja pada usaha pengolahan keripik ubi kemasan secara berturut-turut 181,86%, 144,58%, 144,24% dan 144,58% lebih tinggi dari usaha pengolahan keripik ubi curah; nilai tambah perubahan bahan baku usaha pengolahan keripik ubi dengan kemasan memiliki nilai 2,02 kali lebih tinggi dari harga ubi segar yang dipasok oleh petani mitra, sedangkan nilai tambah perubahan bahan baku usaha pengolahan keripik ubi dengan curah memiliki nilai 1,46 kali lebih tinggi dari harga ubi segar yang dipasok oleh petani mitra; nilai skor faktor kekuatan terendah dalam rantai pasok usaha pengolahan keripik ubi terletak pada komunikasi yang baik antara pemilik usaha dengan tenaga kerja sebesar 0,06602, nilai skor terendah faktor kelemahan terletak pada tingkat pendidikan pemilik usaha dan tenaga kerja sebesar 0,03851, nilai skor terendah faktor peluang terletak pada kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi sebesar 0,18584 dan nilai skor faktor ancaman secara keseluruhan bernilai sama yaitu 0,26549; posisi usaha pengolahan keripik ubi berada pada divisi sel 2 yaitu pertumbuhan yang memerlukan strategi intensif dan pemilihan strategi yang sesuai dalam pengembangan usaha pengolahan keripik ubi kota Dumai adalah peningkatan produksi dengan efisiensi tinggi, peningkatan mutu keripik ubi sesuai standar SNI dengan memanfaatkan sumberdaya keuangan melalui program pinjaman pemerintah serta peningkatan kesejahteraan tenaga kerja.

Published
2020-12-30
Abstract viewed = 127 times
PDF downloaded = 206 times